Home Catatan HAM Saya, Romo Nug & Kandang Ayam

Saya, Romo Nug & Kandang Ayam

94
0

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL)

 Tulisan ini merupakan penghormatan untuk kawanku, Saidna Ali, Mantan Koordinator Komite Mahasiwa dan Pemuda Anti Kekerasan (KOMPAK) 2018-2020

 Kawanku, Saidna Ali, akhir sebagai Koordinator KOMPAK adalah awal berkiprah di kemanusiaan dan antikekerasan yang tidak ada selesainya selama hayat di kandung badan.

Saya kisahkan pengalaman saya ketika tidak berkiprah lagi di KOMPAK karena saya melihat Bang Islah sudah mampu memimpin KOMPAK tanpa kehadiran saya.

Kiprah saya berlanjut mengorganisir anak-anak underground yang biasa nongkrong di Taman Panglima Polim, Blok M dengan membentuk organisasi bernama Jaringan Generasi Biru (JARGEB). Mereka minat di musik. Saya datangi Bunda Iffet dan personil Slank (Kaka, Bimbim, Abdi, Ridho) di markasnya, di Gang Potlot. Saya sampaikan tentang JARGEB kepada mereka, saya minta SLANK turut membantu, membina dan memberikan motivasi kepada anak-anak JARGEB ini. Bunda Iffet setuju, personil SLANK setuju, diadakanlah acara pembinaan dan motivasi tersebut di Situ Gintung, Tangsel. Personel SLANK datang lengkap, acara berlangsung menyenangkan dari siang jelang sore sampai setelah Maghrib tanpa harus saya bayar. Gratis.

Anak-anak JARGEB termotivasi dan kemudian sering mengadakan konser musik kecil-kecilan ala underground.

Karena saya memiliki ideologi antikekerasan yang menjadi nafas saya, maka JARGEB saya ikut sertakan dalam Keluarga Indonesia untuk Pemilu Damai (KIPD) yang dimotori oleh Eep Saefulloh Fatah. KIPD mengkampanyekan gerakan anti kekerasan dalam pemilu 1999 dengan basis keluarga. Tujuan saya memasukkan JARGEB ke KIPD agar anak-anak JARGEB memiliki ideologi anti kekerasan sehingga memiliki imunitas untuk tidak terjerumus dalam aksi-aksi kekerasan.

Atas kiprah saya di JARGEB ini, seorang romo yang memiliki wilayah paroki, yaitu Paroki Ciputat dengan gerejanya yang berada di Rempoa, Tangsel meminta bantuan saya untuk menyelesaikan masalah gerejanya dengan masyarakat Muslim di daerah Rempoa. Nama romo ini adalah Romo Nugroho, akrab dipanggil Romo Nug. Dia bercerita kepada saya jika jalan menuju gererjanya ditaruh kandang ayam di tengah-tengah jalan. Keberadaan  kandang ayam di tengah jalan merupakan bentuk kekerasan simbolik, intimidatif, oleh kelompok mayoritas Muslim kepada pihak gererja. Saya bantu urusan ini walau yang  mengerjakannya secara teknis adalah anak-anak JARGEB yang tinggal di Rempoa.

Romo Nug dan jemaatnya berterima kasih kepada langkah saya dan anak-anak JARGEB untuk urusan kandang ayam tersebut. Ketika saya menikah, dia datang bersama jemaatnya, rombongan lumayan besar, sebuah kehormatan buat saya yang membuat saya terharu dan menjadi salah satu kenangan manis dalam hidup saya.

Kawanku, Saidna Ali, Ini sepotong kisah kecil saya yang memberikan hikmah bahwa ideologi antikekerasan akan menyatukan kita dan mengantarkan kita kepada orang-orang yang memerlukan kita untuk perdamaian dan anti kekerasan. Ini adalah jalan hidup kita, misi profetik: kerjaan para nabi dan orang-orang suci, dari KOMPAK untuk sesama. Teruslah bergerak kawanku, Saidna Ali!

 

 

 

Previous articleLembaga Peradaban Luhur (LPL) Dukung Kegiatan Sekar KOMPAK Awal 2022
Next articleKepala LPL: Fatia & Haris Jadi Tersangka, Momentum Bongkar Kejahatan di Papua!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here