KTT Asean & PR Penindasan Rakyat di Labuan Bajo

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL)

 Seorang kawan mengirimkan saya sebuah link video yang tayang di akun Twitter @KawanBaikKomodo yang disertai teks penjelasan bahwa warga di Flores (Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur/NTT) ini termasuk berani menghadapi rezim @jokowi, mungkin terlalu berani. Mereka kemungkinan akan hadapi 3 hal: 1. Hak mereka akan segera dipenuhi; 2. Mereka akan berhadapan dengan aparat; 3. Suara mereka diabaikan.

Di video tersebut, yang diwakili oleh seorang anak muda, bersuara keras menuntut hak kompensasi dari tanah dan ladang mereka yang dirampas tanpa ganti rugi untuk akses jalan di Labuan Bajo dengan mengancam akan memagari dan memalangi akses jalan yang merupakan bekas rumah, sawah dan ladang mereka, seperti  di Kampung Cumbi, Desa Warloka,  untuk perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean  atau Asean Summit yang akan diselenggarakan di Labuan Bajo, 9-11 Mei 2023 dan akan dhadiri oleh seluruh kepala negara Asean sebagai momentum upaya atau jalan terakhir mereka menuntut keadilan. Karena berbagai cara yang mereka tempuh telah tertutup atau sia-sia; dari bertemu bupati, bertemu DPRD Manggarai Barat, bertemu anggota Komisi III DPR RI dan mendatangi pihak keamanan semua buntu, tidak ada jalan keluar. Bahkan dua kali mereka berupaya bertemu dengan Presiden Jokowi, malah dihalang-halangi oleh pihak keamanan.

Link video tersebut dikirim ke saya karena dua hal, yaitu: Pertama, saya berasal dari Flores Timur, NTT yang diharapkan memiliki kepedulian lebih terhadap nasib rakyat NTT di video tersebut; dan kedua, Lembaga Peradaban Luhur (LPL) yang saya pimpin bergerak di bidang advokasi dan pemberdayaan masyarakat sipil terlibat dalam kepanitiaan Asean Civil Society Conference/ASEAN Peoples` Forum 2023 (ACSC/APF 2023) yang merupakan forum masyarakat sipil Asean dan pada tahun 2023 Indonesia menjadi tuan rumahnya dalam bentuk co chair (co chairman) atau ketua bersama sehingga diharapkan LPL bisa ikut membantu menyuarakan atas penindasan rakyat, terutama di Kampung Cumbi, Desa Warloka; Kampung Nalis, Desa Macang Tanggar; dan Kampung Kenari, Desa Warloka yang berada di kawasan Labuan Bajo ini.

Saya sudah menghubungi saudara saya dan pihak-pihak terkait di Labuan Bajo terutama pemuda yang ada di video tersebut dan dia mengirimkan rilis dan kronologis terjadinya kasus penindasan rakyat di Labuan Bajo kepada saya serta mengumpulkan berbagai data sehingga dapat disimpulkan terjadinya penindasan terhadap rakyat yang bangunan rumah, sawah dan ladang mereka telah menjadi jalan Labuan Bajo-Golo Mori yang diresmikan oleh Presiden Jokowi pada Selasa pagi, 14 Maret 2023 dan merupakan pelanggaran negara atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2021.

Kronologis terjadinya pelanggaran tersebut adalah pembangunan jalan Labuan Bajo menuju kawasan KEK Golo Mori khususnya di Kampung Cumbi, Desa Warloka; dan Kampung Nalis, Desa Macang Tanggar; kampung Kenari; Desa Warloka; Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diprakarsai oleh Kementrian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia dan PT WIKA sebagai pelaksana teknis. Proyek ini telah mengisahkan begitu banyak tangisan warga yang sawah, kebun, dan rumahnya digusur tanpa ada ganti rugi

Pada prinsipnya, masyarakat mendukung kegiatan pembangunan yang gencar di kota pariwisata Super Premium Labuan Bajo. Bahkan masyarakat berterimakasih kepada Presiden Jokowi yang menaruh perhatian begitu besar di wilayah Manggarai Barat melalui begitu banyak pembangunan dan penataan kota Labuan Bajo. Namun, semarak pembangunan tersebut menimbulkan keresahan dan keprihatinan yang besar bagi masyarakat Manggarai Barat, khususnya masyarakat di kampung Cumbi, Nalis, dan Kenari yang menjadi korban penggusuran dan pembangunan jalan menuju KEK Golo Mori. Proyek pembangunan Jalan ini adalah Proyek Strategis Nasional dengan anggaran proyek yang sangat fantastis mencapai 400 miliar. Dan diyakini bahwa nilai proyek  sebesar ini pasti dianggarkan juga untuk proses pengadaan tanah bagi kepentingan umum dan kompensasi, sebagaimana yang diamanatkan oleh UU N0. 2 Tahun 2012, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020, dan PP No.19 Tahun 2021.

Aktivitas penggusuran jalan sudah dimulai sejak bulan Februari 2022 dimana hampir semua tahapan dan proses pembangunan ini tidak melibatkan semua masyarakat. Sosialisasi di tingkat desa hanya mengundang dan melibatkan perwakilan/utusan kampung. Hal ini menyalahi aturan dan prosedur pembangunan karena setiap tahapannya tidak melibatkan individu pemegang hak atas tanah dan rumah.

Rerdapat 51 warga korban dari kampung Cumbi, Nalis, dan Kenari  (mayoritas petani dan guru honor) yang terus memperjuangkan haknya menuntut ganti rugi. Jumlah aset warga yang menjadi korban penggusuran sebagai berikut:

  1. Sebanyak 2 rumah permanen 2 lantai
  2. Sebanyak 5 rumah permanen
  3. Sebanyak 16 rumah semi permanen
  4. Sebanyak 14.050 m² pekarangan
  5. Sebanyak 1.790 m² sawah
  6. Sebanyak 1.080 m² ladang

Aset masyarakat Cumbi, Nalis, dan Kenari tersebut di atas sampai saat ini belum mendapat kompensasi atau ganti rugi. Hal ini sangat memprihatinkan karena semua proyek strategis nasional di seluruh Indonesia memberikan kompensasi atau ganti rugi kepada masyarakat yang asetnya diambil untuk kepentingan umum. Presiden Jokowi menyebutnya sebagai ganti untung karena masyarakat selain mendapat keuntungan dari pembangunan itu juga mendapat kompensasi terhadap asetnya yang diambil untuk kepentingan pembangunan itu. Apakah warga Cumbi, Nalis, dan Kenari bukan warga negara Indonesia? Oleh karena itu, proyek ini telah menimbulkan ketidakadilan di tengah masyarakat karena sejumlah warga yang terdampak di jalur itu sudah mendapat ganti rugi yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah, sedangkan warga Cumbi dan Nalis sampai saat ini tidak mendapat ganti rugi. Diduga bahwa anggaran kompensasi telah diterima oleh pihak lain yang selama ini berusaha menghalang-halangi masyarakat untuk mendapat ganti rugi. Dengan demikian, proyek ini berindikasi korupsi.

Adanya indikasi korupsi karena pejabat negara di Jakarta mengatakan bahwa jangan pernah katakan bahwa Pemerintah Pusat tidak memberi ganti rugi atas pembangunan yang mengorbankan hak warga. Sementara Pemerintah Daerah Manggarai Barat sejak awal mengatakan tidak ada ganti rugi. Oleh karena itu, masyarakat korban selalu bertanya kemana anggaran itu? anggaran ini mengendap dimana? Mengalir kemana?

Juga dilihat adanya indikasi bahwa pejabat terkait tidak memberikan informasi yang benar dan menutupi informasi tentang peraturan yang mengatur pengadaan tanah bagi kepentingan umum. Bahkan dalam dokumen digital dan data yang dihimpun menunjukkan ada indikasi tekanan dan intimidasi kepada masyarakat untuk menandatangani dokumen persetujuan pembangunan jalan tanpa ganti rugi.

Sebagai upaya memperjuangkan hak-haknya yang diabaikan dalam pembangunan ini, masyarakat korban dan JPIC SVD Ruteng dan mitranya sudah melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Pada tanggal 10 mei 2022 menemui Anggota Komisi III dan Komisi XI DPR RI
  2. Pada tanggal 21 Juni 2022 Mengirim Surat Ke Presiden RI dan Instansi terkait
  3. Pada tanggal 23 Juni 2022 Menemui Asisten II Pemkab Manggarai Barat
  4. Pada tanggal 20 Juli 2022 Menemui Pejabat Kepresidenan dan menitipkan surat untuk Presiden (Kunjungan Presiden ke Labuan Bajo)
  5. Pada tanggal 22 Juli 2022 perwakilan masyarakat membentangkan spanduk tuntutan ganti rugi dan Berusaha bertemu langsung Presiden Joko Widodo, namun dihadang aparat Kepolisian
  6. Pada tanggal 5 Oktober 2022 Menemui Kabag Tatapem dan DPRD Manggarai Barat
  7. Pada tanggal 24 Oktober 2022 Menemui Asisten I, Kepala BPBD, Dinas Perhubungan, Kabag Tatapem kabupaten Manggarai Barat
  8. Pada tanggal 7 Desember 2022 mengirim surat dan bukti-bukti kepemilikan tanah dan rumah ke Bupati Manggarai Barat, DPRD Manggarai Barat, dan PT. WIKA Labuan Bajo.

 

Semua upaya diatas tidak mendapat tanggapan dan informasi dari pemerintah dan perusahaan sampai hari ini. Itu berarti pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tidak memiliki kepedulian sama sekali terhadap hak rakyatnya yang dilanggar.

Sehingga rakyat yang menjadi korban penindasan ini, bersama institusi dan LSM yang mendampinginya telah meminta kepada:

Pertama, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan PT WIKA untuk melaksanakan amanat undang-undang dan peraturan pemerintah untuk memberikan ganti rugi yang wajar dan adil kepada masyarakat Cumbi, Nalis, dan Kenari, yang lahannya digusur untuk kepentingan pembangunan jalan tersebut.

Kedua, Pemerintah Pusat, Kejaksaan RI, dan KPK RI segera melakukan audit keuangan dan audit lapangan terhadap semua kontraktor yang mengerjakan pembangunan Jalan menuju KEK Golo Mori serta memeriksa Kementrian PUPR dan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat terkait anggaran ganti rugi pembangunan jalan tersebut.

Ketiga, aparat keamanan (TNI, POLRI, POL PP) untuk tidak terlibat mengintimidasi warga yang menuntut haknya tetapi mengayomi dan menjaga ketertiban serta ketentraman masyarakat.

Namun, karena permintaan tersebut sampai saat ini belum juga dikabulkan, maka memagari dan memalangi akses jalan yang merupakan bekas rumah, sawah dan ladang mereka untuk acara KTT Asean atau Asean Summit menjadi cara terakhir. Merdeka!

 

 

 

news-1701

yakinjp

yakinjp

maujp

TOTOMACAU

sabung ayam online

sabung ayam online

sabung ayam online

sabung ayam online

article 10000486

article 10000487

article 10000488

article 10000489

article 10000490

article 10000491

article 10000492

article 10000493

article 10000494

article 10000495

article 10000496

article 10000497

article 10000498

article 10000499

article 10000500

article 10000501

article 10000502

article 10000503

article 10000504

article 10000505

article 10000506

article 10000507

article 10000508

article 10000509

article 10000510

article 10000511

article 10000512

article 10000513

article 10000514

article 10000515

article 10000516

article 10000517

article 10000518

article 10000519

article 10000520

article 10000521

article 10000522

article 10000523

article 10000524

article 10000525

article 10000526

article 10000527

article 10000528

article 10000529

article 10000530

article 10000531

article 10000532

article 10000533

article 10000534

article 10000535

article 10000536

article 10000537

article 10000538

article 10000539

article 10000540

article 10000541

article 10000542

article 10000543

article 10000544

article 10000545

mahjong 000106

mahjong 000107

mahjong 000108

mahjong 000109

mahjong 000110

mahjong 000111

mahjong 000112

mahjong 000113

mahjong 000114

mahjong 000115

mahjong 000116

mahjong 000117

mahjong 000118

mahjong 000119

mahjong 000120

mahjong 000121

mahjong 000122

mahjong 000123

mahjong 000124

mahjong 000125

mahjong 000126

mahjong 000127

mahjong 000128

mahjong 000129

mahjong 000130

mahjong 000131

mahjong 000132

mahjong 000133

mahjong 000134

mahjong 000135

mahjong 000136

mahjong 000137

mahjong 000138

mahjong 000139

mahjong 000140

mahjong 000141

mahjong 000142

mahjong 000143

mahjong 000144

mahjong 000145

mahjong 000146

mahjong 000147

mahjong 000148

mahjong 000149

mahjong 000150

mahjong 000151

mahjong 000152

mahjong 000153

mahjong 000154

mahjong 000155

mahjong 000156

mahjong 000157

mahjong 000158

mahjong 000159

mahjong 000160

mahjong 2000546

article 2000547

article 2000548

article 2000549

article 2000550

article 2000551

article 2000552

article 2000553

article 2000554

article 2000555

article 2000556

article 2000557

article 2000558

article 2000559

article 2000560

article 2000561

article 2000562

article 2000563

article 2000564

article 2000565

article 2000566

article 2000567

article 2000568

article 2000569

article 2000570

article 2000571

article 2000572

article 2000573

article 2000574

article 2000575

mahjong 2990612

article 2990606

article 2990607

article 2990608

article 2990609

article 2990610

article 2990611

article 2990613

article 2990614

article 2990615

article 2990616

article 2990617

article 2990618

article 2990619

article 2990620

article 2990621

article 2990622

article 2990623

article 2990624

article 2990625

article 2990626

article 2990627

article 2990628

article 2990629

article 2990630

article 2990631

article 2990632

article 2990633

article 2990634

article 2990635

mahjong 9998000726

mahjong 9998000727

mahjong 9998000728

mahjong 9998000729

mahjong 9998000730

mahjong 838000803

mahjong 838000804

mahjong 838000805

mahjong 838000806

mahjong 838000807

mahjong 838000808

mahjong 838000809

mahjong 838000810

mahjong 838000811

mahjong 838000812

mahjong 838000813

mahjong 838000814

mahjong 838000815

mahjong 838000816

mahjong 838000817

mahjong 000161

mahjong 000162

mahjong 000163

mahjong 000164

mahjong 000165

artikel 000000091

artikel 000000092

artikel 000000093

artikel 000000094

artikel 000000095

artikel 000000096

artikel 000000097

artikel 000000098

artikel 000000099

artikel 000000100

artikel 000000101

artikel 000000102

artikel 000000103

artikel 000000104

artikel 000000105

artikel 000000106

artikel 000000107

artikel 000000108

artikel 000000109

artikel 000000110

artikel 000000111

artikel 000000112

artikel 000000113

artikel 000000114

artikel 000000115

artikel 000000116

artikel 000000117

artikel 000000118

artikel 000000119

artikel 000000120

article 7700331

article 7700332

article 7700333

article 7700334

article 7700335

article 7700336

article 7700337

article 7700338

article 7700339

article 7700340

article 7700341

article 7700342

article 7700343

article 7700344

article 7700345

article 7700346

article 7700347

article 7700348

article 7700349

article 7700350

article 7700351

article 7700352

article 7700353

article 7700354

article 7700355

article 7700356

article 7700357

article 7700358

article 7700359

article 7700360

article 7700361

article 7700362

article 7700363

article 7700364

article 7700365

article 7700366

article 7700367

article 7700368

article 7700369

article 7700370

article 7700371

article 7700372

article 7700373

article 7700374

article 7700375

article 7700376

article 7700377

article 7700378

article 7700379

article 7700380

article 7700381

article 7700382

article 7700383

article 7700384

article 7700385

article 7700386

article 7700387

article 7700388

article 7700389

article 7700390

article 7700391

article 7700392

article 7700393

article 7700394

article 7700395

article 7700396

article 7700397

article 7700398

article 7700399

article 7700400

article 238000561

article 238000562

article 238000563

article 238000564

article 238000565

article 238000566

article 238000567

article 238000568

article 238000569

article 238000570

article 238000571

article 238000572

article 238000573

article 238000574

article 238000575

article 238000576

article 238000577

article 238000578

article 238000579

article 238000580

article 238000581

article 238000582

article 238000583

article 238000584

article 238000585

article 238000586

article 238000587

article 238000588

article 238000589

article 238000590

mahjong 238000591

mahjong 238000592

mahjong 238000593

mahjong 238000594

mahjong 238000595

mahjong 238000596

mahjong 238000597

mahjong 238000598

mahjong 238000599

mahjong 238000600

mahjong 238000601

mahjong 238000602

mahjong 238000603

mahjong 238000604

mahjong 238000605

mahjong 238000606

mahjong 238000607

mahjong 238000608

mahjong 238000609

mahjong 238000610

mahjong 238000611

mahjong 238000612

mahjong 238000613

mahjong 238000614

mahjong 238000615

mahjong 238000616

mahjong 238000617

mahjong 238000618

mahjong 238000619

mahjong 238000620

mahjong 9998000686

mahjong 9998000687

mahjong 9998000688

mahjong 9998000689

mahjong 9998000690

mahjong 9998000691

mahjong 9998000692

mahjong 9998000693

mahjong 9998000694

mahjong 9998000695

mahjong 9998000696

mahjong 9998000697

mahjong 9998000698

mahjong 9998000699

mahjong 9998000700

mahjong 9998000701

mahjong 9998000702

mahjong 9998000703

mahjong 9998000704

mahjong 9998000705

mahjong 9998000706

mahjong 9998000707

mahjong 9998000708

mahjong 9998000709

mahjong 9998000710

mahjong 9998000711

mahjong 9998000712

mahjong 9998000713

mahjong 9998000714

mahjong 9998000715

mahjong 9998000716

mahjong 9998000717

mahjong 9998000718

mahjong 9998000719

mahjong 9998000720

mahjong 9998000721

mahjong 9998000722

mahjong 9998000723

mahjong 9998000724

mahjong 9998000725

mahjong 838000773

mahjong 838000774

mahjong 838000775

mahjong 838000776

mahjong 838000777

mahjong 838000778

mahjong 838000779

mahjong 838000780

mahjong 838000781

mahjong 838000782

mahjong 838000783

mahjong 838000784

mahjong 838000785

mahjong 838000786

mahjong 838000787

mahjong 838000788

mahjong 838000789

mahjong 838000790

mahjong 838000791

mahjong 838000792

mahjong 838000793

mahjong 838000794

mahjong 838000795

mahjong 838000796

mahjong 838000797

mahjong 838000798

mahjong 838000799

mahjong 838000800

mahjong 838000801

mahjong 838000802

news-1701